MENU

Berkunjung ke Pulau Saebus Kec. Sapeken Kangean

Photo by: Aulia Akbar Pulungan
Berkunjung ke pulau Saebus, Pantai disana indahnya luar biasa, dengan pasir putih dan laut biru yang tenang tanpa karang membuat mandi menjadi pilihan yang nggak mungkin saya lewatkan. Kebetulan sedang lebaran, terlihat banyak orang yang berdatangan dari berbagai pulau. Terlihat anak2 sedang mandi di pinggir pantai, ada yang bermain dengan perahu karet, Ada yang duduk2 santai di bibir pantai. Dan ada juga yang sekedar berteduh di bawah pohon-pohon kelapa atau warung-warung di sekitar pantai sambil menyeruput air kelapa muda yang dijual dengan harga Rp 5.000 per buahnya.

Penduduk di disana umumnya berbahasa Sulawesi (bahasanya: bahasa Bajau, bahasa Mandar dan sebagian kecil berbahasa Bugis) bukan berbahasa Madurakarena dalam sejarahnya orang Sulawesi lah yang menemukan Kepulauan ini lalu akhir tahun 90-an mulai banyak berdatangan etnis lain seperti Jawa, Madura dan Cina. Begitu juga dengan kultur budaya sangat berbeda dengan budaya Madura, rata-rata suku yang ada di sepulauan Sapeken adalah suku Bajau, Mandar dan Bugis. Dan rumah-rumah penduduk disana adalah rumah panggung, dengan lantai mencapai 1,5 meter dari permukaan tanah.

Masyarakatnya sangat ramah dan sangat bersemangat. Walau PLN belum menjangkau daerah tersebut, dimana mereka hanya bisa menikmati listrik dari mesin diesel dengan membayar Rp 30.000/bulan untuk pemakaian 5 jam setiap harinya, yaitu dari pukul 6 sore hingga 11 malam. Ditambah lagi dengan kondisi tanah yang kurang subur. Saya tidak pernah mendengar keluhan atau kritikan sekali pun. Mereka lebih suka bekerja daripada hanya menyalah-nyalahkan dan menuntut banyak hal dari pemerintah seperti yang marak terlihat di negeri ini.

Saya beruntung dapat merasakan salah satu budaya masyarakat unik disana, yaitu memindahkan rumah dengan cara diangkat. Seluruh lelaki berkumpul secara kompak untuk membantu salah satu penduduk yang hendak memindahkan rumahnya tanpa bayaran. Sungguh luar biasa, semangat gotong royong seperti ini, tidak akan pernah kita temukan lagi di daerah perkotaan di negeri ini.
 
Share

Kangean Network

Post A Comment: