SUMENEP — Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah kepulauan di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, menjadi tantangan bagi pemerintah daerah. Keterbatasan sarana transportasi dan tingginya biaya pengiriman air dari daratan membuat penanganan krisis air bersih membutuhkan cara yang berbeda.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep mengupayakan distribusi air bersih dengan memanfaatkan sumber air yang masih tersedia di pulau-pulau terdampak. Salah satu wilayah yang mengalami krisis air bersih adalah Kecamatan Gayam di Pulau Sapudi.
Kepala Pelaksana BPBD Sumenep, Kamiluddin, menjelaskan bahwa pengiriman air bersih langsung dari daratan Sumenep membutuhkan biaya besar. Karena itu, BPBD memilih alternatif dengan mengirim kendaraan pengangkut, seperti mobil pikap, ke wilayah kepulauan.
Kendaraan tersebut digunakan untuk mengambil air dari sumur warga yang masih memiliki persediaan, kemudian mendistribusikannya kepada masyarakat yang membutuhkan. BPBD juga berkoordinasi dengan pihak kecamatan untuk mengidentifikasi sumber air yang masih dapat dimanfaatkan.
Selain mengirim kendaraan, BPBD mempertimbangkan penyewaan kendaraan milik warga setempat agar penyaluran air dapat dilakukan sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing pulau.
Krisis air bersih juga mulai terjadi di Pulau Giligenting, khususnya di Desa Gedungan. BPBD telah menerjunkan petugas untuk memeriksa kondisi lapangan dan mendata jumlah keluarga yang terdampak.
Sementara itu, pemerintah daerah bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Sumenep juga menyalurkan bantuan air bersih, tandon, dan jeriken ke sejumlah wilayah terdampak di Pulau Sapudi. Bantuan tersebut ditujukan untuk memudahkan warga memperoleh, mengangkut, dan menyimpan air bersih.
Penanganan kekeringan di wilayah kepulauan membutuhkan dukungan sarana distribusi, koordinasi lintas instansi, serta pemanfaatan sumber air yang tersedia secara optimal. Langkah tersebut diperlukan agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau.
Sumber informasi: ANTARA Jawa Timur, 29 September 2026, dan Media Center Kabupaten Sumenep, 25 September 2026.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep mengupayakan distribusi air bersih dengan memanfaatkan sumber air yang masih tersedia di pulau-pulau terdampak. Salah satu wilayah yang mengalami krisis air bersih adalah Kecamatan Gayam di Pulau Sapudi.
Kepala Pelaksana BPBD Sumenep, Kamiluddin, menjelaskan bahwa pengiriman air bersih langsung dari daratan Sumenep membutuhkan biaya besar. Karena itu, BPBD memilih alternatif dengan mengirim kendaraan pengangkut, seperti mobil pikap, ke wilayah kepulauan.
Kendaraan tersebut digunakan untuk mengambil air dari sumur warga yang masih memiliki persediaan, kemudian mendistribusikannya kepada masyarakat yang membutuhkan. BPBD juga berkoordinasi dengan pihak kecamatan untuk mengidentifikasi sumber air yang masih dapat dimanfaatkan.
Selain mengirim kendaraan, BPBD mempertimbangkan penyewaan kendaraan milik warga setempat agar penyaluran air dapat dilakukan sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing pulau.
Krisis air bersih juga mulai terjadi di Pulau Giligenting, khususnya di Desa Gedungan. BPBD telah menerjunkan petugas untuk memeriksa kondisi lapangan dan mendata jumlah keluarga yang terdampak.
Sementara itu, pemerintah daerah bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Sumenep juga menyalurkan bantuan air bersih, tandon, dan jeriken ke sejumlah wilayah terdampak di Pulau Sapudi. Bantuan tersebut ditujukan untuk memudahkan warga memperoleh, mengangkut, dan menyimpan air bersih.
Penanganan kekeringan di wilayah kepulauan membutuhkan dukungan sarana distribusi, koordinasi lintas instansi, serta pemanfaatan sumber air yang tersedia secara optimal. Langkah tersebut diperlukan agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau.
Sumber informasi: ANTARA Jawa Timur, 29 September 2026, dan Media Center Kabupaten Sumenep, 25 September 2026.
