Karapan Kerbau (Jejel) Menjadi Budaya Khas Tersendiri di Kangean

Nur Kholis Mansur
Friday, October 10, 2014

Karapan Kerbau (Jejel) Menjadi Budaya Khas Tersendiri di Kangean
Kebudayaan adalah seperangkat peraturan atau norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang kalau dilaksanakan oleh para anggotanya, melahirkan perilaku yang oleh para anggotanya dipandang layak dan dapat diterima.

Kebudayaan terdiri dari nilai-nilai, kepercayaan, dan persepsi abstrak tentang jagat raya yang berada di balik perilaku manusia, dan yang tercermin dalam perilaku. Semua itu adalah milik bersama para anggota masyrakat, dan apabila orang berbuat sesuai dengan itu, maka perilaku mereka dianggap dapat diterima di dalam masyarakat.

Kebudayaan dipelajari melalui sarana bahasa, bukan diwariskan secara biologis, dan unsur-unsur kebudayaan berfungsi sebagai suatu keseluruhan yang terpadu.

Dari definisi diatas masyarakat kangean memiliki kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan masyarakat-masyarakat pada umumnya (masyarakat di luar Pulau kagean), meskipun kangean masih berada termasuk bagian dari pulau madura dan berada di wilayah Indonesia tapi karena factor letak membuat kebudayaan-kebudayaan di Indonesia berbeda-beda, dari satu daerah-ke daerah lain pasti memiliki perbedaan kebudayaan.

Untuk kebudayaan masyarakat kangean sendir berbeda dengan kebudayaan masyarakat lainnya, termasuk dengan kebudayaan Jawa Timur (Surabaya, Malang dll) meskipun kangean masih satu provinsi dengan mereka. Masyarakat kangean memiliki corak, karakter dan sifat yang berbeda dengan masyarakat madura dan Jawa. Masyarakatnya yang santun, membuat masyarakat kangean disegani, dihormati bahkan “ditakuti” oleh masyarakat yang lain.

Kebaikan yang diperoleh oleh masyarakat atau orang kangean akan dibalas dengan serupa atau lebih baik. Namun, jika dia disakiti atau diinjak harga dirinya, tidak menutp kemungkinan mereka akan membalas dengan yang lebih kejam. Banyak orang yang berpendapat bahwa masyarakatkangean itu unik, estetis dan agamis. Dapat dibuktikan dengan banyaknya masjid-masjid megah berdiri di kangean dan tidak hanya itu saja, kebanyakan masyarakat kangean termasuk penganut agama Islam yang tekun, ditambah lagi mereka juga berusaha menyisihkan uangnya untuk naik haji. Dari hal tersebut tidak salah kalau masyarakat kangean juda dikenal sebagai masyarakat santri yang sopan tutur katanya dan kepribadiannya.

Masyarakat kangean masih mempercayai dengan kekuatan magis, dengan melakukan berbagai macam ritual dan ritual tersebut memberikan peranan yang penting dalam pelaksanaan kehidupan masyarakat kangean. Slah satu bentuk kepercayaan terhadap hal yang berbau magis tersebut adalah terhadab bendah pusaka yang berupa keris atau jenis tosan aji dan ada kalanya melakukan ritual Pethik Laut atau Rokat Tasse (sama dengan larung sesaji).

Untuk bahasa masyarakat Kangean memiliki bahasa daerahnya sendiri yang mayoritas digunakan oleh masyarkat asli kangean dimana pun berada sesama kangeannya. Bahasa kangean hamper mirip dengan bahasa madura atau daerah lainnya di Indonesia, karena bahasa kangean banyak terpengaruh oleh bahasa madura,Jawa, Melayu, Bugis, bajo dan lain sebagainya. Pengaruh bahasa madura dan Jawa sangat terasa dalam bentuk system hierarki berbahasa sebgai akibat pendudukan Kerajaan Mataram atas Pulau kangean pada masa lampau.

Untuk kesenian sendiri kangean memiliki beberapa kesenian tradisional seperti karapan sapi, topeng, Lombe, gelok 0 gelok dan lombe (lomba kerapan menggunakan kerbau. Karapan kerbau adalah perlombaan pacuan kerbauu yang sudah berlangsung sejak dulu. Karapan kerbau juga dapat menaikkan setatus social pemilik kerbau bila kerbau miliknya bisa juara dalam perlombaan tersebut.

Karapan kerbau didahului dengan mengarak pasangan-pasangan sapi mengelilingi arena pacuan dengan diiringi gamelan Kangean yang dinamakan saronen. Para pemusik seronen ini bertugas sebagai alat penyemangat anggota kontingen bersrta kerbau – kerbaunya sebelum karapan dimulai.

Sumber; Djojoprajitno Sahwanoedin 2005. Kangean dari zaman wilwatikta sampai Republik Indonisia (1350 – 1950 ). Buletin Kangean Nyiur Melambai (KNM). Pamekasan 

Penulis: Mat saleh,november 2013.