MENU

Budaya Kangean Menarik Pada Bahasa dan Model Intonasi Bahasa

Oleh : Darsuki 

Pulau Kangean merurapakan salah satu daerah kepulauan yang terletak di bagian timur pulau Madura, bahkan lebih dekat dengan Bali daripada dengan Sumenep (Madura). Kangean juga merupakan salah satu bagian yang tak terpisahkan dari Sumenep - Madura, yang kaya akan Sumber Daya Alam (SDA) mulai dari kekayaan Migas, kekayaan laut dan Hutan dengan kayu Jatinya, dan lain sebagainya. Kekayaan tersebut merupakan salah satu peninggalan Belanda. Bahkan saat ini kekayaan alam kepulauan Kangean menjadi incaran dan target dari berbagai pengusaha / pemodal dalam maupun luar negeri untuk bisa mengelola kekayaan SDA yang ada di kepulauan Kangean. 

Kalau kita berbicara tentang Kangean tentunya sangat luas sekali karena Kangean itu sendiri terdiri dari beberapa budaya dan bahasa yang sangat beragam, kemudian bersatu menjadi kesatuan yaitu Kangean dengan berbagai istilahnya. Masyarakat kepulauan Kangean termasuk mayarakat yang Plural, kenapa saya katakan demikian? karena kalau kita melihat dan mengamati Masyarakat kepulauan Kangean pada umumnya, mulai dari ujung timur sampai ujung barat sangat banyak sekali perbedaan-perbedaan yang kita temukan mulai dari persoalan; bahasa, dan model-intonasi bahasanya, serta struktur kehidupan social kesehariannya. Bahkan kalau kita tahu ada sebagian tempat di kepulauan Kangean tersebut dalam aspek bahasa dan model-intonasi bahasanya berbeda-beda walaupun jarak nya hanya dibedakan jalan setapak. 

Kalau ditelusuri dan dilihat dari nenek moyang dan kultur masyarakat Kangean itu sendiri khususnya dalam aspek bahasanya, kayaknya lebih mendekati daerah imur yakni seperti; Makassar, Mandar, dan Bugis (Sulawesi). Apalagi di daerah kepulauan Kangean bagian timur khususnya pulau Pagerungan, Sepanjang, Sapeken, Sitabbok dan Saular jelas sekali dengan model bahasanya ada kesamaan dengan Indonesia bagian tomur tersebut yakni disbanding dengan Madura pada umumnya. Hal ini dikarenakan pada zaman penjajahan dahulu, konon banyak sekali pelayar-pelayar yang datang dari kawasan Sulawesi, kemudian mereka menetap dan bermukim di daerah kepulauan Kangean tersebut sampai akhirnya memiliki keturunan turun-temurun, bahkan kebanyakan dari mereka enggan untuk kembali ke tempat asalnya. Lain halnya dengan Masyarakat kepulauan Kangean bagian barat kayaknya lebih condong ke Madura, Jawa, dan ketimur dilihat dari aspek bahasa dan keturunannya, walaupun banyak sekali adanya perbedaan - perbedaan dan kesamaan dalam bahasa kesehariannya. Jadi kalau kita lihat dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa masyarakat kepulauan Kangean terdiri dari beberapa kompleksitas-kompleksitas yakni; dari segi keturunan, bahasa dan budaya kemudian menjadi satu – kesatuan dalam terminology “Kangean”. 

Kalau melihat kehidupan budaya masyarakat kepulauan Kangean saat sekarang ini, khususnya yang terkait dengan budaya dan teknologi, hal semacam ini sangat kita rasakan keberadaannya. Ini terbukti dengan pesatnya arus teknologi – budaya luar masuk ke dese-desa seperti; hand Phone (HP), televise (TV), mode pakaian, dan pergaulan anak-anak muda serta beraneka macam parfom yang sekiranya membuat generasi muda kangean terhipnotis dengan itu semua. Akan tetapi menurut mereka itu adalah sebuah kemajuan dan hal yang berbau modern. Padahal itu hanyalah sebuah metos yang di teriakkan oleh para penjajah yang berkedok “modernisasi” dan orang-orang yang memiliki perusahaan besar. Bahkan saat ini, minum-minuman keras sudah menjalar ke masyarakat yang berada jauh di pedesaan-pedesaan. Masalah tersebut di sebabkan juga oleh pengaruh media yang berkembang pesat dan masuk pada setiap bilik rumah-rumah kita. Dan tidak bisa di pungkiri pula, ini juga disebabkan karena pengaruh orang kangean sendiri yang bekerja diluar Negeri dan generasi muda kangean yang melanjutkan jenjang pendidikannya diluar kangean mulai dari anak-anak SMP, SMU/SMK, dan yang Kuliah di berbagai perguruan tinggi yang ada di Indonesia khususnya di daerah Jawa dan Madura yang dudah terkontamminasi dengan budaya luar. 

Ketika mereka pulang ke kampung halamannya masing-masing, kadangkala mereka membawa hal-hal yang baru dan penampilan yang juga sama sekali baru untuk ukuran orang Kangean. Dimana hal tersebut menurut mereka sesuatu yang maju dan modern, sehingga seringkali hal semacam ini menjadi sebuah teladan yang kurang baik dan akan mengikis sedikit demi sedikit kekayaan moyang kita akan budaya Kangean itu sendiri. Bahkan kadangkala sebagian kecil dari mereka yang melanjutkan studinya keluar menjadi bahan sorotan dan pembicaraan oleh masyarakat sekitarnya, karena hal itu tidak sesuai dan bertentangan dengan budaya, dan etika Masyarakat kepulauan Kangean pada umumnya. 

Untuk menghindari budaya luar yang kurang memberikan teladan yang baik tersebut, setidaknya generasi muda Kangean mesti menyadari bahwa Masyarakat kepulauan Kangean pada umumnya memiliki budaya, moral dan etika sendiri dalam kesehariannya. Dan generasi muda Kangean seharusnya menyadari kalau tempat kelahiran mereka sedang di serang, dinodai dan di jajah oleh budaya luar (Popular Culture). Sehingga nantinya tidak tergantung dan tidak terpengaruh dengan budaya luar yang sedang menjajah budaya Masyarakat kepulauan Kangean khususnya dan Indonesia pada umumnya. Terkait dengan hal tersebut, setidaknya Pemerintah daerah, Aparat kepolisian dan instansi – instansi yang terkait, serta tokoh – tokoh masyarakat kepulauan Kangean khususnya yang memiliki pengaruh besar hendaknya dan seharusya ikut prihatin, mengawasi dan membendung pada masalah-masalah yang sekiranya itu merugikan dan memudarkan budaya, etika-moral masyarakat pada umumnya. Yang sangat penting dilakukan disini yaitu selalu adanya kerjasama komunikasi yang baik antara pesantren-pesantren yang ada, tokoh Masyarakat dan Aparat Kepolisian yang berwenang untuk membendung itu semua. 


Sumber :
http://www.kduay.org/berita-129-budaya-dan-masyarakat-kangean.html
Share

Nur Kholis Mansur

Post A Comment: